Senin, 03 Agustus 2015

Logika Kebolak balik

Logika kebolak balik by ust Yusuf Mansur

1. Perasaan ingin mencuri apakah datangnya dari Allah? Bila perasaan itu tetap semua dari Allah, maka apakah benar boleh mencuri?

2. Perasaan, pikiran, kemampuan, u merekayasa sesuatu, sebut saja korupsi & kolusi, jg semua datangnya dari Allah? Secara apa2 ya dari Allah? Lalu?

3. Bila seorang ayah tiba2 ada perasaan menyukai & ingin menzinahin putri kandungnya, maka darimana datangnya nafsu itu? Dari Allah jua kah?

4. Bila seseorang mencintai suami orang, atau istri orang, adalah perasaan itu jg anugerah dari Allah, & dtgnya dari Allah? Hrs bgm kah dia?

5. Saya, negeri ini, bangsa ini, agaknya emang harus trbuka. Mau ngaji lagi dari enol. Dari awal. Biar ga pada rancu. Trmasuk saya. Mau belajar lagi.

6. Kadang saya, kita, negeri ini, bangsa ini, suka sakit logikanya. Sbb ilmunya cetek, diliputi hawa nafsu jg, plus ga ada iman & hidayah pula.

7. Kalau Allah Kuasa menghentikan saya yg berzina? Knp Allah tdk melakukan? Bahkan Allah membiarkan. Berarti kan Allah izinkan? Duh. Sakit.

8. Sakit logikanya. Maka sakit perilakunya. Bahkan yg menyimpang dari Aturan Allah pun, dianggap biasa saja dan tdk menyimpang.

9. Makin tenggelam, makin "ga apa2", alias ga ada kejadian apa2 yg bahaya buat dia, alias aman, malah makin liar. Bertambah2 sakit & sesatnya.

10. Benar2 saya mesti belajar lagi logika & pikiran yg udah pada tebolak tebalik. Saya benar2 mesti belajar lagi. Sebab lawan bicara makin hebat2 logikanya.

11. Th 2004 saat belajar di Belanda. Saat di mana ada perayaan yg tumplek blek (mungkin maksudnya Pride Festival/Perayaan LGBT -red). Satu kota. Satu negeri. Kayak keluar dari rumahnya semua.

[In 2001 the Netherlands granted legal recognition to same-sex marriage, becoming the first nation to do so. Belanda adalah negara pertama yang legalkan kawin sejenis th 2001 -wikipedia] 

12. Ngeri ngeliat pemandangan perayaan internasional itu. Benar2 ngeri. 1 kota. 1 negeri. Sdh nganggap perayaan itu bahkan jadi ajang wisata.

13. Saya sempet tinggal di Amsteilvein. Ada cerita miris di komplek tempat saya menumpang. Ada seorang remaja putri dinyatakan hilang.

14. Usia beliau. Belasan. Belom sampe 15th. Mula2 ayah ibunya khawatir. Sbb ga pulang2. Bule sono ini. Bukan orang Indonesia yg di sana.

15. Setelah 3hran, tiba2 anak putri ini muncul begitu saja. Padahal ayah ibunya dan tetangga dah panik. Seneng kah ortu ini putrinya pulang?

16. Pastinya seneng. Udah bingung nyari kemana2. Trs pulang sendiri. Zaman itu, taon itu, blm taonnya sosmed.

17. Putri itu ditanya. Koq 3hr ga ngasih kabar? Nyusahin orang banyak. Bikin khawatir orang tua.

18. Putri itu jwb, dia menghabiskan 3hr nya bersama pacarnya. & dg senangnya dia crita, sudah ga gadis lg. Ayahnya marah. Putrinya ditampar.

19. Putrinya ga senang. Ngadu ke polisi. Kemudian atas dasar HAM, ayahnya ditangkep dan dipenjarakan ke polisi. | Saya (ust YM) benar2 harus belajar lg.

20. Dulu ketika kecil, ketika ngaji & sekolah, saat salah, kita ditampar guru, dirotanin, disetrap, disuruh push up, bagi guru ga masalah. Skrg?

21. Kyknya saya emang hrs bljr dari enol lagi. Bnr2 dari Kitab Suci. Sehingga bukan berdasarkan nafsu & pikiran senang saja. Bnr2 dari enol lg.

22. Supaya suatu saat ga ada yg mengatakan, kan Allah yg tdk mengizinkan & tdk membuat saya shalat & puasa. Makanya saya tdk shalat & tdk puasa.

23. Salam... Yusuf Mansur. Yg harus jg belajar lagi dari enol. Salam buat semua kawan. Dlm keadaan apapun ia. Doa yg terbaik bagi saya u smua.

24. Begitu jg doa terbaik dari saya. Jg buat semua.

*dari twit ustadz @Yusuf_Mansur (6/7/2015)

Kampus dan Perjuangan


Resume Kuliah Subuh I'tikaf Masjid Baitul Ilmi Labschool Jakarta 1436 H

Tanggal:
Selasa, 27 Ramadhan 1436 H/ 14 Juli 2015

Pengisi:
Prof. Dr. Arief Rachman (Kepala Sekolah Labschool Jakarta, Guru Besar UNJ, Duta UNESCO Indonesia)

Penulis:
- M. Syahnuryawan Jahja (Mahasiswa Psikologi FIP UNJ, 2013)
- Darwati Effendy (Mahasiswi Silvikultur FAHUTAN IPB 50)

----------------------

Kampus Tempat Anda Berjuang

Assalaamu'alaikum Wr. Wb.

Ketika bertemu mahasiswa, mengingatkan dengan perjuangan saya dkk dahulu. Di tahun 1966, kami mahasiswa saat itu bergerak menyuarakan "Trikura", dimana salah satu sahabat saya, sdr. Arif Rahman Hakim, tertembak di Jl. Medan Merdeka Utara. Jaket Hijau, Kuning, Biru, bersatu tuk berjuang.

Ketika dahulu kampus ini (UNJ) masih bagian dari FKIP UI tahun 1962, sampai berproses menjadi IKIP dan akhirnya UNJ, itu juga perjuangan.

Selama itu saya telah dipenjara selama 17 kali, bahkan saya ditendang dari S2 oleh pemerintah karena mengkritik pemilu 1977 saat itu.

Lalu mengapa saya perlu ceritrakan ini diawal? Jadi seperti ini kawan.

Ibadah itu tidak hanya di dalam masjid, tapi di luar masjid lebih banyak lagi ladang kita beramal dan berdakwah, memperbaiki ummat.

Saya saat datang kemari, secara random membuka tafsir Al-Quran, lalu terbukalah surat Al-lukman yang bicara tentang pendidikan. Juga teringat kisah pemuda Al-Kahfi yang tertuang dalam surat Al-Kahfi. Serta surat Ar-Rahman yang dibacakan oleh imam saat sholat subuh.

Tiga surat ini; Al-Lukman, Al-Kahfi, dan Ar-Rahman, merupakan surat yang sangat dahsyat bagi para pemuda, khususnya untuk anda para mahasiswa.

Terkait pendidikan, jangan jadikan kampus itu sebagai tempat cari title atau gelar, anda bisa lihat bagaimana anggota dewan saat ini, cari kedudukan atau memperjuangkan rakyat?

Jadi jadikan kampus sebagai tempat anda berjuang, berjuang untuk dapat IP tinggi, Toefl 560 agar bisa kuliah di luar negeri, buat penelitian, menulis jurnal ilmiah, disiplin waktu, menikah dengan seseorang yang satu gelombang (visi) dengan anda. Bahkan seorang muslim harus kaya, karena harta merupakan kendaraan untuk mencapai kejayaan islam dan kendaraan untuk mengantar kita ke surga Allaah.

Niatkan semuanya semata-mata untuk memperjuangkan agama Allaah.

Anda harus tahu kawan, bahwa 10 SMP terbaik di Jakarta, 7 diantaranya dikuasai oleh SMP Non Islam, 3 sisanya adalah SMP Labschool Jakarta, SMP Labschool Kebayoran dan SMPN 115 Jakarta. Apalagi kita tahu bahwa Jakarta dipimpin oleh seseorang yang bukan Islam kawan.

Maka dengan kapasitas pendidikan tinggi, dapat anda gunakan untuk menguasai pendidikan itu sendiri, bahkan pemerintahan demi kepentingan islam.

Lalu selain ahli dalam pendidikan, anda juga harus jadi aktivis, menyuarakan islam (kebenaran), jangan hanya sibuk baca buku kuliah.

Saya dulu pernah berhadapan dengan menteri pendidikan karena merekomendasikan kebijakan rok panjang untuk perempuan di SMP Al-Azhar, yang memang pada zaman itu tidak diperbolehkan. Saya bilang ini aturan islam harus nutup aurat Pak, aturan pemerintah yang salah.

Dari pembahasan tadi, jika kita sambungkan dengan kisah pemuda Al-Kahfi, mereka juga menjadi aktivis di zamannya, melawan pemimpin dzalim, lalu saat kondisi terdesak, mereka berstrategi melarikan diri ke gua kahfi.

Maka jadikan kampus dan masjidnya sebagai gua kafhi, tempat untuk anda berstrategi memikirkan masa depan ummat, meninggalkan selaga hingar bingar dunia karena Allaah Ta'ala.

Saya ambil contohnya pada Masjid Salman Al-Farisi ITB, dimana ketika saya melakukan penelitian disana, 3/4 mahasiswinya telah berjilbab. Masjid itu bukan hanya sekedar masjid, tapi menjadi pusat berjalannya keilmuan islam dan lainnya. Itupun juga dulunya diprakarsai oleh seorang alumnus ITB yang 'ditendang' dari ITB, maka berat makna "berjuang" itu kawan.

Selain itu kita bisa ambil contohnya pejuang-pejuang kemerdekaan terdahulu, yang ketika mereka berjuang, tidak pernah lepas dari kalimat takbir, Allaahu Akbar.

Kalaupun anda salah dalam berstategi, kalah dalam persaingan, itu tak mengapa. Sebab kalah dalam perperangan, itu tidak berarti kalah dalam perjuangan kawan.

Dan dalam berjuang, kita juga harus senantiasa bersyukur, jangan terus mengeluh.

Mungkin selama ini kita kurang ajar dengan Allaah, banyak mengeluh seperti Allaah gambarkan di surat Ar-Rahman sebanyak 31x.

"Fabiayyi A'laa Irabbikuma Tukadziban"

Mana nikmat Tuhan yang engkau dustakan?

Lalu yang tak kalah pentingnya dalam berjuang, adalah bagaimana hubungan anda dengan ibu dan ayah.

Jangan tampakkan diri anda sebagai mahasiswa didepannya, tapi tampakkan diri anda sebagai anak yang patuh terhadapnya.

Mungkin anda pernah berbeda pendapat dengan ibu, bahkan anda menganalisis setiap persoalan yang terjadi.

Memang boleh jadi itu benar kawan, tapi apakah itu menjadikan anda pantas untuk melawan dan membatahnya? Apakah dulu ketika dia mengandung anda, dia pernah menganalisis seberapa perutnya akan membesar dan menahan rasa sakit?

Tentu tidak kawan, dia tetap memperjuangkan anda, sampai anda lahir dan Allaah pertemukan kita hari ini.

Jangan sampai perjuangan anda menjadi semakin berat, karena ibu meneteskan air mata akibat perilaku tidak baik anda.

Ketika anda lahir pula, siapa yang mengadzankan di telinga kanan anda?

Tentunya ayah anda bukan. Hayya A'lal Falah, suatu perkataan doa bahwa kita harus jadi pemenang dalam perjuangan ini kawan.

Maka yakinlah, bahwa pertolongan Allaah akan datang dari arah yang tak pernah anda duga.

Saya memang pernah masuk penjara sebanyak 17 kali, namun Allaah izinkan saya berhaji sebanyak 18 kali. Saya do'akan semoga anda juga bisa kesana suatu saat.

Sebagai penutup, jadilah mahasiswa yang tegak ibadahnya, cerdas akalnya, bersih hatinya, kuat jasmaninya dan erat silaturahimnya, itulah modal anda untuk berjuang kawan.

Sekian dari saya, mohon maaf lahir dan bathin.

Wabillaahi Taufiq Wal Hidayah

Wassalaamu'alaikum Wr. Wb.

----------------------

Silakan share tulisan resume ini kawan, semoga bermanfaat.

#GenerasiAlFatih

Agama dan Kekuasaan

Taujih Menggugah Ust. ANIS MATTA,
KISAH PARA NABI MELAWAN PENGUASA

Assalamu’alaikum wr. wb.

Saya yakin Antum semua di bulan Ramadhan kemarin telah mengkhatamkan Alquran. Tinggal masalahnya, berapa kali khatam?Ikhwah fillah. Interaksi kita dengan Alquran baru akan terwujud ketika kita merasa dibimbing Alquran dalam setiap interaksi kita, termasuk pengalaman-pengalaman hidup kita. Pola interaksi kita dengan Alquran itulah yang harus kita tingkatkan, agar Alquran benar-benar memberikan bimbingan dan petunjuk kepada kita.

Ikhwah fillah. Salah satu kandungan Alquran adalah sejarah yang berisi fakta-fakta kemudian ditafsirkan. Tujuan utamanya bukan menguasai fakta-fakta itu, tetapi bagaimana kita mengambil pelajaran dari fakta-fakta sejarah tersebut.

Kisah Alquran yang erat kaitannya dengan kehidupan bernegara, di antaranya adalah kisah Nabi Yusuf, Nabi Sulaiman, dan Nabi Musa vs Penguasa kala itu.

Nabi Musa mengajarkan kepada kita tentang bagaimana memposisikan diri sebagai oposisi. Nabi Yusuf mengajarkan kepada kita konsep dan aplikasi tentang “musyarakah” sehingga kisahnya yang berawal di penjara dapat berujung di istana. Berbeda lagi kisah tentang Nabi Sulaiman, yang bercerita tentang bagaimana jika agama telah mampu menguasai negara.

Ketiga cerita tersebut meskipun berbeda, tetapi mempunyai persamaan:

(1) Konflik

Baik ketika beroposisi, bermusyarokah, maupun menguasai negara, konflik itu selalu ada. Bahkan (cikal bakal) konflik antara Nabi Musa dan Fir’aun telah ada jauh sebelum Nabi Musa lahir, yaitu keinginan Fir’aun melenyapkan setiap bayi laki-laki karena dikhawatirkan akan menyingkirkan kekuasaannya.

Konflik adalah salah satu bentuk cobaan Allah kepada manusia. Manusia yang paling keras cobaannya adalah para nabi dan orang-orang yang paling “mirip” dengan para nabi itu (orang-orang shalih).

Konflik itu biasa, bahkan konflik antara Yusuf dan Benyamin (satu ibu-satu bapak) dengan saudara-saudaranya yang juga anak-anak keturunan Nabi (keluarga Yusuf, 4 generasi ke atas adalah Nabi semua) hingga berujung pada skenario pembunuhan. Apalagi hanya dalam sebuah organisasi atau negara. Kata Sayid Qutb: kita tidak bisa memilih untuk tidak berkonflik, yang bisa kita pilih adalah di kubu mana kita berada.

Khusus cerita Yusuf kita dapati konflik terjadi karena kecemburuan akan kadar keikhlasan saudara-saudaranya. Maka, prinsip dakwah kita yang pertama dan utama adalah salamatush-shadr (lapang dada, wujud ukhuwah paling minimal -ed).

(2) Konspirasi

Hal yg patut dicatat: ayat-ayat yang berkaitan dengan konspirasi kepada para nabi itu dikaitkan dengan keimanan kepada Allah dan kepada taqdir, supaya kita punya keyakinan bahwa Allah-lah yang mengendalikan semuanya. Dia-lah sebaik-baik pembuat tipu daya.

Kita lihat bagaimana kisah Nabi Musa yang diselamatkan Allah dengan mengantarkan beliau ke istana Fir’aun melalui Sungai Nil kemudian ditemukan oleh isteri Fir’aun. Siapakah yang mengendalikan pikiran isteri Fir’aun sehingga Musa diselamatkan dan diijinkan menikmati hidup di istana? Bukankah sebelumnya Fir’aun ingin agar setiap bayi laki-laki dibunuh? Mengapa dia justeru setuju untuk membesarkan Musa di istananya? Allah telah mengubah persepsi Fir’aun dan isterinya sehingga menyelisihi niatnya sendiri.

Ingat pertempuran Fir’aun dan Musa, ketika Musa terjepit Ia justru lari ke laut. Logika perang modern dimana-mana kalau terjepit larinya ke gunung atau hutan bukan ke laut. Maka tatkala Fir’aun mengetahui hal itu, ia dan pasukannya besorak karena sangat mudah menghancurkan Musa dan pengikutnya. Tapi Allah punya rencana, diperintahkan Musa memukulkan tongkat ke laut dan terbelah-lah lautan. Fir’aun pun tak sempat berpikir panjang, mengejar ke tengah lautan yang terbuka, dan ia pun binasa ditelan lautan.

Demikian pula, siapakah yang mengendalikan pikiran saudara Yusuf sehingga mereka hanya menceburkan Yusuf ke dalam sumur, dan bukan membunuhnya? Ingat, sebab utama konflik antara Nabi Yusuf dan saudara-saudaranya adalah KECEMBURUAN, yang berakhir pada kon
spirasi untuk membunuh Yusuf as.

Jika kita punya kesadaran tentang kekuasaan Allah, tidak boleh ada ancaman yang membuat kita berhenti bergerak dan berjuang. Maka, jangan pernah memandang besar dan kuat terhadap musuh-musuh kita. Allah-lah yang memberikan kita kekuatan dan persepsi itu.

(3) Jarak

Yang dimaksud di sini adalah jarak antara mimpi dan realisasi atas mimpi itu. Kita harus punya optimisme bahwa mimpi kita pasti terwujud. Harus punya nafas perjuangan yang panjang agar mimpi kita terwujud. Berapa lama jarak antara mimpi Nabi Yusuf dan realisasi kekuasaan beliau? Salah satu riwayat menjelaskan, jarak itu adalah 40 tahun. Kesabaran Yusuf itulah yang menjadikannya dimenangkan oleh Allah SWT.

Kesabaran adalah faktor yang sangat penting dalam suatu perjuangan. Kisah nabi Yusuf antara dibuang saudara-saudaranya dengan realitas mimpi ayahnya nabi Yakub, bahwa saudara-saudara akan menyembah/sujud ke nabi Yusuf, adalah sekitar 40 tahun (8x pemilu), riwayat lain 80 tahun (16x pemilu).

Jatuh bangun dalam pilkada, pileg, adalah biasa dalam pendakian menuju kemenangan. Yang pasti, kita harus terus naik, meskipun dlm perjalanan naik itu kadangkala butuh istirahat. Kalaupun kita menang pilkada bahkan memenangkan negara ini masih akan panjang perjuangan (tantangan dan konfliknya). Usai memenangi negara kita harus berjuang dan berkonflik memenangkan tahap berikutnya hingga sampai ustadziyatul ’alam.

Jadi miliki nafas yang panjang, jangan pernah patah arang apalagi hanya karena survey.

Siapa yang akan menang, adalah mereka yang berumur lebih panjang: stamina tetap, teknik semakin baik. Pemimpin Bosnia kala tahun 1994 diwawancarai oleh Fox News ditanya tentang masa depan Bosnia, beliau mengatakan, “Yang memenangi peperangan ini bukanlah yang membunuh lebih banyak jiwa, tetapi siapa yang bisa hidup lebih lama.” Fakta sejarah menunjukkan bahwa pada

akhirnya Serbia pergi dan Bosnia berdiri merdeka.

Yakinlah kapanpun itu kita akan tetap menang pada akhirnya. Mana lebih lama umur negara atau agama? Imperium Romawi-Yunani sekarang mana? Tapi agama yang dulu pernah mereka kalahkan sampai hari ini masih tetap ada. Maka karena kita berjuang untuk agama ia akan selalu menang! Politisi menciptakan voters, tapi agama menciptakan Followers. Kuat mana voters dan followers?


(4) Mindset

Baik Nabi Yusuf, Musa, maupun Sulaiman, ketiganya punya mindset sebagai PEMENANG, bukan pengabdi. Coba perhatikan, Doa Nabi Sulaiman yang sangat dahsyat: Robbii hablii mulkan laa yanbaghii li ahadin min ba’dii. Sulaiman minta negara dan ia minta negara itu tidak diberikan kepada selainnya.

Kita doanya apa? kita doa minta istri, anak-anak sholeh, dan semua itu diberikan oleh Allah. Tapi pernahkah kita berdoa minta negara?

*Sulaiman bukan hanya minta negara, tapi negara/kekuasaan yang tak diberikan Allah kepada setelahnya*

Kalau kita tak pernah meminta (berdoa) minta negara akankah Allah berikan kita negara ini? Oleh karena itu mari kita tambah doa-doa kita dengan doa Sulaiman.

*Kalau kita minta negara maka Allah akan sertakan segala isinya, tapi kalau kita hanya minta suami, istri, anak sholeh belum tentu negara akan diberikan pada kita. Sulaiman karena doanya itu menurut riwayat istrinya 99, bahkan Daud istrinya 1000*

Berdoalah kepada Allah agar kita diberikan kekuasaan yang dengannya kita memperbaiki umat dan bangsa ini. Bahkan lebih daripada itu, kita akan tunjukkan peran kita di muka bumi ini.

Apakah Antum siap untuk mengubah mindset sebagai pemenang? Apakah Antum siap memenangkan dakwah ini? Yakinkah Antum dengan kemenangan yang akan Allah berikan?

Inspirasi Dari Kisah Nabi Musa, Yusuf dan Sulaiman

Selasa, 03 Maret 2015

Istimewa by kang Akmal Sjafril

Istimewa

Anda tidak pernah menyaksikan Abu Bakar ra atau ‘Umar ra datang terlambat untuk shalat lima waktu dengan alasan, “Afwan, saya sibuk!” Mereka istiqamah dengan shalat lima waktunya sebagaimana mereka istiqamah dengan tugas-tugas lainnya, dan mereka berlomba-lomba menjadi yang terbaik bersama hamba-hamba Allah lainnya.


assalaamu’alaikum wr. wb.

Tidak ada yang istimewa dari orang-orang yang menganggap dirinya istimewa. Pada dasarnya setiap orang ingin menjadi individu yang istimewa, hanya saja tidak semua orang paham bagaimana harus mewujudkannya. Sebagian besar di antara mereka justru melakukan hal-hal yang kontraproduktif. Ya, sebagian besar manusia! Sebab, bukankah yang istimewa itu pastilah minoritas?

Jika ada yang mengatakan bahwa setiap individu terlahir istimewa, ungkapan ini sebenarnya tidak keliru juga, namun harus dipahami sesuai konteksnya. Memang setiap manusia itu unik, dan karenanya, ia istimewa. Ada manusia yang lebih efektif belajar dengan melihat (visual), ada yang dengan mendengar (auditorial), dan ada juga yang hanya bisa benar-benar paham dengan mencoba melakukannya sendiri (learning by doing). Ada juga manusia yang mentalnya jatuh jika harga dirinya diinjak-injak, tapi sebaliknya ada yang malah ‘kebanjiran adrenalin’ jika ada yang memberikan tantangan sedemikian rupa kepadanya. Manusia memang berbeda-beda. Tapi, jika semuanya berbeda, lantas di mana istimewanya? Fakta bahwa kita berbeda dengan yang lain, dan setiap orang memang tidak ada yang sama, justru membuat kita tidak istimewa.

Sekilas terdengar seperti paradoks, namun keyakinan manusia akan keistimewaan dirinya sendiri justru menjadikannya tidak istimewa sama sekali. Sebab, menganggap diri istimewa hanya menyalakan ego pribadi, dan orang yang tak mampu menaklukkan egonya hanya akan menjadi satu dari entah berapa miliar manusia lainnya. Mereka hanya menjadi satu dari sekian miliar manusia lainnya yang merupakan mayoritas, dan mayoritas manusia – sekali lagi – tidaklah istimewa.

Tengoklah budaya populer di luar sana. Betapa banyak yang menyerukan slogan ‘menjadi diri sendiri’, namun pada kenyataannya mereka justru kehilangan kepribadiannya sendiri. Iklan-iklan komersil mengajak mereka untuk ‘menjadi beda’ dengan menyajikan imej model tertentu, dan pada akhirnya imej itu ditiru habis-habisan oleh para pemuda yang kehilangan arah. Pada akhirnya, tidak ada yang beda dari kawanan pengikut tren ini. Mereka menjadi seragam, justru dalam usahanya untuk menjadi beda.

Banyak manusia yang menjadi mangsa mode, namun mereka tidak pernah menganggap dirinya sebagai mangsa. Betapa banyak orang yang berusaha begitu keras untuk mengikuti tren berpakaian, namun toh mereka tidak kunjung menjadi rujukan orang. Maksimal, mereka hanya jadi pusat perhatian sesaat saja. Karena selalu berusaha menyeragamkan diri dengan tren yang berlaku, pada akhirnya mereka menjadi tidak istimewa. Selain tren berpakaian, ada juga tren gadget. Banyak orang rela mengantri sejak Subuh demi mendapatkan gadget terbaru, seolah-olah tidak mungkin memperolehnya keesokan hari. Mungkin ia akan mendapatkan gadget tersebut lebih cepat dari kebanyakan orang, namun sepekan-dua pekan sesudahnya, ia tidak lagi istimewa. Ia hanya menjadi satu dari sekian banyak pengguna gadget yang sama. Itulah ilusi tren. Ia membuat manusia merasa istimewa, padahal ia justru melakukan persis sebaliknya.

Karena yang menjadi mangsa dari ‘perasaan istimewa’ ini umumnya tidak merasa telah dimangsa, maka jangan pula berpikir bahwa orang-orang ini hanya ada di ‘kelompok sana’, dan tidak ‘di sini’. Penyakit yang sama bahkan juga menjangkiti banyak aktivis dakwah yang sesungguhnya sangat menyadari bahaya tren dan mode.

“Afwan tidak bisa membantu, saya sibuk,” adalah salah satu ungkapan yang sering muncul dari lisan orang-orang yang terjangkit ‘perasaan istimewa’ ini. Di luar sana, kerap kita jumpai aktivis dakwah yang sudah tergabung ke dalam sebuah kepengurusan atau kepanitiaan – dan tak ada yang memaksanya untuk bergabung – tapi memiliki begitu banyak stok alasan untuk tidak ikut sibuk. Ironisnya, alasan untuk tidak ikut sibuk adalah kesibukan itu sendiri. Pertanyaannya: siapa yang tak sibuk? Apakah orang ini sebegitu istimewanya sehingga ia teramat sangat sibuk, sedangkan mayoritas rekannya tidak ada kesibukan sama sekali? Bertanyalah dengan jujur kepada diri sendiri: bukankah kebanyakan orang yang mengaku paling sibuk justru biasanya tidak sibuk-sibuk amat? Dan bukankah yang biasanya sibuk di berbagai kepanitiaan atau kepengurusan itu adalah orang yang itu-itu saja? Mengapa mereka bisa sedemikian sibuk, namun justru tidak pernah menjadikan ‘sibuk’ sebagai alasan?

Jika lisan tidak berkata-kata, maka perbuatan adalah cermin terbaik. Lihatlah para aktivis yang gemar datang terlambat, apakah mereka adalah yang paling sibuk di antara rekan-rekannya? Ya, tentu saja, kadang-kadang ada kondisi di luar kuasa manusia yang menghambat kita. Misalnya, qadarullaah, sepeda motor tunggangan kita bannya bocor di tengah jalan, sehingga kita harus mencari tukang tambal ban selama sepuluh menit, mengantri lima belas menit, dan menunggu ban ditambal lima belas menit. Total keterlambatan: empat puluh menit. Tapi orang yang terlambat namun benar-benar berusaha datang tepat waktu pasti terlihat berbeda dengan mereka yang terlambat karena memang berangkatnya pun terlambat. Betapa banyak aktivis dakwah yang terlambat datang satu-dua jam tapi langkahnya tidak terburu-buru, atau tidak kita jumpai setetes keringat pun sebagai saksi usaha kerasnya untuk datang sesuai jadwal. Pada akhirnya kita hanya menjumpai berbagai varian alasan dengan satu makna: “Afwan saya terlambat, ada kesibukan!”

Sekali lagi, tengoklah wajah-wajah mereka yang rajin datang dan jarang terlambat. Bukankah orangnya itu-itu saja? Bukankah yang paling berkomitmen adalah juga mereka yang paling sibuk? Dan bukankah yang paling banyak alasan adalah mereka yang paling sedikit kesibukannya?

Maaf sejuta maaf, tapi pembenaran tidak otomatis menjadikan yang salah menjadi benar. Segala sesuatu yang terjadi memang ada alasannya, namun terlalu banyak beralasan adalah tanda bahwa Anda tidak istimewa, sebab sebagian besar manusia memang terlalu banyak beralasan. Adapun mereka yang benar-benar istimewa pikirannya terfokus pada target, dan tidak menjadikan situasi sulit atau kondisi diri yang unik sebagai alasan. Tentu saja setiap manusia itu istimewa, tapi mereka memperebutkan target yang sama, yaitu untuk menjadi yang terbaik. Oleh karena itu, setiap manusia harus menghadapi masalahnya masing-masing, dan bukannya justru merasa istimewa dengan masalahnya itu.

Pebasket mana yang tak kenal Michael Jordan? Namanya memiliki tempat yang sangat istimewa – bahkan salah satu yang paling istimewa – dalam dunia basket. Akan tetapi, karirnya yang istimewa itu justru diawali dengan kesadaran bahwa dirinya tidaklah istimewa. Jordan semasa SMA tidak ada bedanya dengan siswa yang lain. Kenyataannya, ada masanya ketika seorang Michael Jordan pun tidak terpilih sebagai anggota tim basket. Jika saat itu Jordan mengajukan sejuta pembenaran atas ketidakberhasilannya, maka pastilah ia akan menjadi seperti mayoritas manusia yang hanya bisa main basket, dan bukannya menjadi salah satu pebasket terbaik sepanjang sejarah. Tapi Jordan menerima kenyataan meski pahit dan menjadikannya sebagai tantangan. Solusi yang ada dalam pikirannya sangat sederhana: untuk mengungguli yang lain, maka ia harus berusaha lebih keras daripada yang lain. Maka Jordan pun menjelma menjadi pebasket yang etos kerjanya tak terkalahkan. Sebelum yang lain datang, ia sudah mulai berlatih. Setelah yang lain pulang, ia masih berlatih. Jordan berhasil menjadi yang terbaik justru karena menyadari bahwa dirinya tidak istimewa. Barangkali banyak orang lain yang memiliki potensi sebaik dirinya atau bahkan lebih baik, namun tidak banyak yang berani berkomitmen seperti Jordan.

Jalan hidup yang kurang lebih sama juga dilalui oleh nama-nama besar lainnya. Jika Anda berpikir bahwa Bruce Lee menjadi begitu hebat karena ia terlahir hebat, maka sebaiknya Anda segera bangun dari mimpi dan mencuci muka dengan air dingin. Tidak ada yang istimewa dari Bruce Lee. Ia menjadi yang salah satu yang terhebat karena ia mendedikasikan dirinya sedemikian rupa dalam bidang keahliannya. Jika Anda bertanya kepadanya bagaimana cara ia bisa melakukan pukulan begitu kuat dari jarak satu atau tiga inci saja (ini adalah teknik khas yang dikembangkannya sendiri), maka barangkali ia akan tersenyum meledek dan menjawab, “Berlatihlah memukul seribu kali sehari, lama-lama kau akan ngerti juga!” Bruce Lee jago memukul dan menendang karena ia melakukannya lebih banyak daripada yang lain, sebagaimana Michael Jordan jago melakukan shoot karena ia melatihnya lebih sering daripada yang lain.

Ada konsep sederhana yang dapat menjelaskan masalah ini dengan baik. Ia bernama: sunnatullaah. Jordan dan Lee lahir dalam keadaan sama saja dengan yang lain; mereka lahir dalam keadaan lemah, hanya bisa menangis, dan tangannya tak bisa memukul atau melempar bola. Segalanya diperoleh melalui latihan. Setiap keterampilan memang didapatkan melalui latihan, dan ini merupakan sunnatullaah bagi setiap manusia. Kalau Jordan dan Lee tidak berlatih begitu keras, tentu mereka tidak ada bedanya dengan miliaran manusia lainnya.

Tentu saja tidak semua orang ditakdirkan untuk menjadi pebasket seperti Jordan atau ahli bela diri seperti Lee. Ada sesuatu yang disebut bakat, dan ini berkaitan dengan kondisi unik dari setiap individu. Mungkin Anda tidak bisa melempar bola seakurat Jordan, tapi dengan mudah mampu mengalahkannya dalam permainan catur. Mungkin pula Anda tidak bisa menjadi ahli bela diri sekelas Bruce Lee, namun seorang Bruce Lee pun ketika mobilnya mogok ya mampir juga ke bengkel atau montir kepercayaannya. Kita semua memiliki kesempatan untuk menjadi yang terbaik di bidangnya masing-masing. Hanya saja, kita harus menerima sunnatullaah dan berhenti beralasan.

Abu Bakar ra dan ‘Umar ibn al-Khaththab ra adalah dua pribadi yang selalu mengagumkan untuk dibahas. Semua tahu bahwa pribadi Abu Bakar ra sangat lembut dan ‘Umar ra dikenal garang. Akan tetapi, ketika Abu Bakar ra menjadi khalifah, beliau langsung berhadapan dengan berbagai kasus riddah (murtad), di antaranya dari sekelompok orang yang menolak membayar zakat. Ketika itu, Abu Bakar ra langsung mengambil langkah tegas dan memerangi mereka, sementara ‘Umar ra justru membujuk-bujuk Abu Bakar ra agar jangan terlalu keras. Pada akhirnya, argumen Abu Bakar ra-lah yang berhasil menundukkan pendapat ‘Umar ra.

Sebaliknya, ‘Umar ra yang dikenal sangat kuat dan pedangnya sangat tajam justru menjadi tokoh yang begitu lembut ketika beliau menjadi Amirul Mu’minin. Beliau tidak banyak menghadapi kasus riddah seperti Abu Bakar ra, sehingga peperangan yang terjadi pada jamannya lebih banyak berkontribusi dalam melakukan ekspansi wilayah Islam. Beliau dikenang sebagai pemimpin yang kerap berkeliling melihat-lihat keadaan rakyatnya di malam hari, ringan tangan dalam memberikan pertolongan kepada yang membutuhkan.

Abu Bakar ra dan ‘Umar ra menerima sunnatullaah atas dirinya. Mereka menyadari ada keunggulan dan sekaligus juga kelemahan yang unik dalam dirinya masing-masing. Mereka juga menerima tugasnya sebagai hamba Allah SWT dan memutuskan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiqul khairaat). Kita dapat melihat bagaimana Abu Bakar ra dan ‘Umar ra terlibat dalam ‘perlombaan’ menjadi hamba yang terbaik ini dalam berbagai episode sejarah. Abu Bakar ra, yang begitu lembutnya sehingga selalu menangis ketika menjadi imam shalat, berhasil mentransformasi dirinya menjadi pemimpin yang kuat sehingga beliau mampu bersikap tegas manakala diperlukan. Demikian pula ‘Umar ra, yang begitu gagah dan ditakuti musuh-musuh Islam, berhasil mentransformasi dirinya menjadi pemimpin yang amanah sehingga beliau mampu bersikap lembut ketika rakyatnya membutuhkan kelembutan.

Abu Bakar ra dan ‘Umar ra adalah dua pribadi yang sangat berbeda, namun mereka terlibat dalam perlombaan yang sama. Keduanya tidak mengumbar alasan dan pembenaran. Mereka sibuk memperbaiki kelemahan dan memperkuat keunggulan dalam dirinya. Mereka menerima sunnatullaah bahwa keistimewaan hanyalah milik orang-orang yang istiqamah, dan sunnatullaah ini berlaku kepada siapa saja. Oleh karena itu, Anda tidak pernah menyaksikan Abu Bakar ra atau ‘Umar ra datang terlambat untuk shalat lima waktu dengan alasan, “Afwan, saya sibuk!” Mereka istiqamah dengan shalat lima waktunya sebagaimana mereka istiqamah dengan tugas-tugas lainnya, dan mereka berlomba-lomba menjadi yang terbaik bersama hamba-hamba Allah lainnya. Mereka tidak meminta diistimewakan dalam hal apa pun, dan karena itulah mereka begitu istimewa.

wassalaamu’alaikum wr. wb.

Sumber